Makna Ilah

Pengertian Laa ilaahaillallaah (1) Mari kita mendalami pengertian Lailahailallah. 1. Allah sebagai Rab Kajian allah sebagi Rab dimasukkan kedalam tauhid Rububiyyah. a. Allah Sebagai Khalik (pencipta) Simak Qs 2:21 “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa” kemudian Qs 51:56 “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku” Mencipta adalah hak Allah lihat ujung Qs 7:54 “…mencipta dan memerintah hanyalah hak Allah. …” Yang memiliki kemampuan mencipta hanya Allah, tak satupun mahkluk diberi wewenang untuk mencipta. Yang bisa dilakukan makhluq hanya mengutak-atik yang telah ada, melakukan assembling. Kiranya suatu saat manusia dapat membuat makhluk hidup dengan mencampur berbagai bahan kimia, itupun hanya assembling, membuat dari yang ada. Hanya memberikan kondisi supaya terjadi kehidupan, sama halnya dengan manusia dapat memberikan kondisi kepada kematian. Allah dari yang tidak ada menjadi ada. Lalu muncullah pengertian : LaaKhalika illallah, yang berarti tiada pencipta selain Allah. Jadi Laailaha illallah juga berarti LaaKhalika illallah. b. Allah sebagai pemberi Rizki (Ar-Raaziq) Ar-Raaziq berati juga penjamin, pemelihara sekaligus pemberi rizki. Simak Qs 2:22 “Dialah yang menjadikan bumi sebagi hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air(hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu …” Selanjutnya simak pula Qs 17:30-31″Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rizki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hambNya.”(30) “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karean takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” Allah menjamin rizki tiap-tiap mahluknya, siapa takut tidak dapat rizki, rizkinya akan sempit. Kita sama sekali tidak boleh khawatir terhadap rizki yang diberikan Allah, tetapi kita tidak boleh berpangku tangan, diam menungguh hujan rizki dari langit, kita harus/diwajibkan berusaha, ikhtiar untuk mendapatkannya. Salah satu rizki yang jarang diperhitungkan manusia adalah oksigen. Pernahkah kita merenung rizki oksegen yang kita hirup setiap saat? bagaimana kalau penggunaan oksigen di charge? Coba anda hitung kita butuhkan oksigen kita 24 jam, lalu harga oksigen, kemudian hitung berapa uang yang harus dikeluarkan kalau oksigen kita beli setiap bulan? Tidakkah anda berpikir betapa rizki Allah diberikan tanpa menghitung-hitung. Coba renungkan lagi, renungkan dan renungkan. Kecenderungan ketakutan untuk tidak memperoleh rizki ini kiranya banyak melanda kita, kita ragu-ragu bahkan mau-maunya manusia mencari yang tidak halal, termasuk korupsi yang sedang hangat didiskusikan. Kini orang takut pula punya anak lebih dari dua, takut rizkinya sempit, padalah Allah menjamin anak-anak itu lihat ayat diatas, tapi kita RAGU terhadap jaminan Allah ini, keraguan ini menunjukkan pengertian kita terhadap aqidah masih lemah. Apakah ikhwan RAGU terhadap jaminan ALLAH ? renungkanlah, lalu jika tidak saya ucapkan selamat, iman ikhwan telah tegar, bila jawabnya iya, berushalah meningkatkan iman, yakinlah kepada Allah sepenuh jiwa, hilangkan semua keraguan. Ingat iblis dan pasukannya menghancurkan pertahanan iman dari keraguan. Berdasarkan ini maka : Laaraziqa illallah (tiada pemberi rizki kecuali Allah). Jadi Laailaha illallah juga berarti Laaraziqa illallah. c. Allah sebagai pemilik (Al-Malik) Allah-lah yang memiliki langit dan bumi dan segala diantara keduanya. Al-Malik berarit juga rajadiraja. Kerajaan Allah meliputi langit dan bumi. Simak Firman Allah Qs 3:26-27. “Katakallah : Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (26) “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hdup. Dan Engkau beri rizki yang Engkau kehendaki tanpa hisab.” (27) Kedua ayat diatas menunjukkan Maha Kuasa Allah pemilik kerajaan, Dia dapat berbuat apa saja yang dia kehendaki, berkuasa mutlak. Jadi pada perinsipnya semuanya ini milik Allah, harta yang kita miliki pada hakekatnya adalah milik Allah yang dipinjamkan/amanat kepada kita, kelak akan ditanyai amanat itu. Lalu dengan ini mulcullah: Laamailka illallah. (tiada pemilik kecuali Allah. Apa yang mau disombongkan Manusia, dia tak punya apa-apa, semuanya milik Allah. Inilah makna lain Laailaha illallah. Pengertian Laa ilaahaillallaah (2) 2. Allah sebagai Mulk (Raja di raja) Kajian Allah sebagai Mulk disebut Tauhidul Mulkiyyah. a. Allah sebagai Mulk (Raja di raja). Mulk Raja-diraja dalam pengertian berkuasa penuh. Firman Allah Qs 114:2 (surat Annas) “Malikinnas”- Raja Manusia. Kemudian perhatikan Qs 3:26 tsb. Allah adalah Raja di raja, tiada raja-diraja melainkan Allah. “Laamulka illallah” Karena Allah Raja-diraja maka Allah berkuasa mutlak, semua kejadian di alam yang fana ini atas izin Allah. Mu’jizat para nabi dan rasul, yang seolah-olah bertentangan dengan sunnatullah (kalau dilihat dari kacamata sunatullah yang kita kenal) terjadi karena izin Allah. Semua makhluk adalah hambanya. Manusia adalah hambanya yang paling mulia sekaligus paling bandel. Alangkah sombongnya manusia itu, sudah dikarunia kemulyaan eh menentang, petantang-petenteng, sombong, patutlah dia di tindak tegas oleh Allah. Tetapi Ada golongan manusia yang sangat mulia disisi Allah, dialah orang-orang yang bertaqwa. Allah berkuasa memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan berkuasa pula mencabut kekuasaan dari siapa yang dia kehendaki. Allah berkuasa memuliakan siapa yang dia kehendaki, begitu pula menghinakannya. Berlindung pada Raja diraja (Allah) dengan kekuasaannya. La hawlawala quwwata illa billah. b. Allah sebagai pelindung (Al-Waliy) Allahlah pelindung dan penolong mahlukNya, mintalah perlindungan kepada Allah, niscaya Allah akan melindungi. Simak Qs 2:257 ” Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir, pelindung-pelindung mereka adalah syaitan yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.” Tidakkah ikhwan perhatikan bagaimana Allah melindungi sang bayi yang tidak memilik kekuatan apa-apa dengan kasih sayang dari orang tuanya? Kemudian muncul LaaWaliyya illallah – tiada pelindung selain Allah. Inilah makna lain dari Laailaha illallah. c. Allah sebagai Hakam (yang membuat hukum) Pengakuan Allah sebagi pembuat hukum harus diakui secara i’tiqadi. Allahlah yang berhak membuat hukum, hukum-hukum yang kita ikuti harus diturunkan dari hukum Allah sekali tidak diperkenankan menentang hukum Allah. Konsekuensi orang yang berhukum selain hukum Allah sangat berat. Simak Qs 5:44-50 “…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (44) “…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (45) “…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik .” (47) Lanjutkan baca dengan teliti Qs 44-50 tersebut. Qs 44-50 merupakan dalil bahwa satu-satunya hukum adalah hukum Allah. Benar-benar mengerikan kalau kita tidak berhukum selain hukum Allah, konsekuansinya bisa fasik, zalim ataupun kafir, mengerikan Lalu dapat ditarik pengertian Laahakama illallah – Tiada pembuat hukum kecuali Allah. Lailaha illallah juga berarti Laahakima illallah. Pengertian Laa ilaahaillallaah (3) 3. Allah yang disembah (Ma’bud) Kajian Allah sebagai yang disembah masuk kategori tauhid uluhiyyah. a. Allah sebagai Ma’bud Allahlah satu-satunya yang patut disembah. Simak Qs. 51:56 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” Ikrar “Hanya kepadaMu-lah kami menyembah dan kepadaMu-lah kami mohon pertolongan.” Qs 1:5 minimal diucapkan 17 kali sehari. Kembali lagi Laama’buda illallah, tiada yang patut disembah atau diibadati kecuali Allah. Lailaha illallah juga berarti Laama’buda illallah. b. Allah sebagi tujuan (Al-Ghayah) Simak firman Allah Qs. 94:8 ” Dan hanya kepada Allalah hendaknya kamu berharap (menempatkan tujuan).” Allahlah tujuan kita, Allahu Ghayatuna. Lailaha illallah juga berarti Laaghayatu illallah. Bila Ikhwan ingin tahu lebih lanjut penjelasan Allahu Ghayatuna, lihatlah kalimat pertama ikrar Ikwanul Muslimin, baca penjelasannya. Camkan pengertian Laailihaillah tersebut, anda sebagi mu’min harus benar-benar memahami ilmu Laailahaillallah, dan sadar betul konsekuensi ikrar laailahaillallah tersebut. Rasulullah bersabda (direkord dalam Shahih Muslim) sbb: ” Man maata wahuwa ya’lamu an lailahailallah dakhalal jannah.” (Siapa yang meninggal memiliki ilmu tentang laailahaillallah dia akan masuk sorga.) Laailaha illallah membebaskan semua ketergantungan, kecuali hanya pada Allah.*

2 Tanggapan to “Makna Ilah”

  1. pemaknaannya kurang luas dan kurang panjang dan kurang mendetail

  2. daarulihkwan Berkata

    jazakallah…. mungkin nanti saya princi makna ilah tersebut dengan ilmu yang saya dapat …terimakasih atas masukan dan koresinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: